Wednesday, October 29, 2014

PENDIDIKAN AKHLAQ



Disampaikan oleh K. Moh Kholil pada kegiatan Makesta
http://kalidanastiti-space.blogspot.com/IPNU – IPPNU Ancab Babadan
20 – Shafar – 1435 H / 23 – Desember – 2013 M.
Di : MTs. Sukosari – Babadan – Ponorogo.

Muqaddimah :
          Pembinaan dan pengembangan generasi muda bertujuan untuk mewu- judkan kader penerus perjuangan dan pembangunan Nasional yang Pancasilais dan di laksanakan melalui usaha-usaha meningkatkan ke-Taqwaan  kepada Alloh SWT, menanamkan dan menumbuh kembangkan kesadaran ber-Agama, ber-Bangsa dan ber-Negara, mempertebal idealisme, semangat patriotisme dan harga diri, memperkokoh kepribadian dan disiplin.
          Mempertinggi budi pekerti (Akhlaq/moral/karakter), memupuk kesega-ran jasmani dan daya kreasi, mengembangkan kepemimpinan, ilmu, ketrampi-lan dan kepeloporan, serta mendorong partisipasi dalam kehidupan ber-Agama ber-Bangsa dan ber-Negara, dan dalam melaksanakan pembangunan karakter anak bangsa dalam negeri Pancasila.
          Dalam Undang-Undang Dasar ( UUD 1945 setelah amandemen pertama dan ke empat ) Pasal 31 Bab XIII alinea 3 menyebutkan : Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan ke-Imanan dan ke-Taqwaan serta Akhlaq mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang.
          Alinea 4 menyebutkan : Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan serta kesejahteraan umat manusia.

Pendidikan Akhlaq ( Tatakarama dan Budi pekerti muliya ).
          Di dalam UUD 1945 diatas sudah jelas arah dari tujuan pendidikan nasional  yaitu meningkatkan ke-imanan, ke-taqwaan serta akhlaq mulia, tapi yang perlu dicermati dan mendapat perhatian dan penanganan khusus yaitu adanya fenomena baru dan khas akhir abad ke-20 adalah lahirnya generasi mall, super market dan warung-warung kopi pinggiran jalan yang kemudian diikuti dengan kelahiran generasi handphone, yaitu kecenderungan remaja untuk ber-haha ria dan asyik dengan buaian budaya penjajah melalui situs- situs pornonya yang mudah diakses menggunakan sarana telephon genggam. Gejala ini dianggap khas karena baru muncul sejak awal dekade 1990-an dan semakin jelas sosoknya sejak pertengahan tahun 1990-an.
          Dampak terbesar dari kehadliran generasi mall dan handphone ini adalah meningkatnya pola konsumerisme di kalangan remaja, sekaligus lahir-nya gaya hidup baru yang sudah jauh dari budaya bangsa Indonesia yang ter-kenal santun, ramah, suka menolong dan gotong royong, serta berkpribadian luhur dalam kehidupan sehari-hari.
          Pada kenyataan yang dapat kita lihat dalam keseharian sekarang ini ada-lah remaja putri merasa sangat bangga bila berpakian ketat dan mengumbar aurat di luar rumah, bahkan setiap pergi keluar dari rumah untuk keperluan di luar sekolah. Budaya berpakaian serba ketat, seksi, mahal-mahal, trendi, suka menyantap makanan cepat saji, suka yang serba instan, dan mengembangkan bahasa gaul.
Fenomena lain yang mewabah dikalangan remaja saat ini seperti tong-krongan di warung-warung kopi pinggir jalanan, merokok, menggunakan obat –obatan terlarang, perzinaan yang dilakukan oleh anak-anak usia sekolah, per-nikahan usia dini sebab hamil lebih dulu, tawuran massal, pencurian dan lain sebagainya berbagai bentuk penyimpangan yang sering dikeluhkan para orang tua saat ini.
Jika memperhatikan visi kehidupan yang ingin dibangun bersama pada masa yang akan datang dan yang digariskan oleh UUD-1945 diatas, serta mem perhatikan kondisi remaja sekarang, maka jelas bahwa fungsi Makesta pada saat ini dan untuk masa yang akan datang adalah sangat penting untuk mengisi ruang-ruang kosong yang menjadi jarak antara realitas empiris dan yang di idealkan.
Untuk memperoleh kepercayaan diri yang tinggi remaja tidak cukup di berikan nasehat dengan kata-kata, tapi yang lebih utama, memberikan peluang kepada remaja untuk mengekspresikan potensinya, sebab melalui ekspresi itu potensi remaja dapat memperoleh kepercayaan diri yang tinggi. Sedangkan sikap profesional dapat tumbuh melalui suatu proses latihan yang panjang.
Profesionalisme itu bukan hanya dimaknai secara sempit “dibayar tinggi”, tetapi lebih dari itu mengacu pada penyelesaian tanggung jawab secara sungguh-sungguh, tanpa harus ada kontrol dari luar.

Ada empat pilar pendidikan akhlaq yang terpuji :
1. Akhlaq manusia terhadap sang Kholiq ( Alloh SWT.). Jika seseorang itu ta’at dalam menjalankan perintah Alloh SWT, dalam berbagai bentuk amal atau aktifitasnya sehari-hari, tentu orang itu akan menjadi orang yang memili-ki moral atau karakter yang terpuji. Tetapi jika sebaliknya, dia itu tidak ta’at, tentu akan mudah melakukan amal atau aktifitas yang menyimpang dari keten-tuan Alloh SWT, sebab sudah tidak takut lagi terhadap Alloh. Orang yang de-mikian ini akan mudah melakukan kemaksiatan, kedzaliman, kemungkaran dan kejahatan-kejahatan, jika sudah demikian keadaannya, tentu orang ini tidak lagi memiliki moral atau akhlaq atau karakter yang terpuji.  
          Alloh berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 32 :


  قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ (32

Katakanlah: "Ta'atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, Maka Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir". QS.2:32.

          2. Akhlaq manusia terhadap dirinya sendiri.
              Ada pepatah jawa mengatakan “Ajining diri saking lathi, ajining raga saking busana, ajining manungsa saking tepa slira”.
Artinya : Seseorang itu akan menjadi terpuji jika bisa menjaga lisannya, dari kata-kata kotor, adu domba, menghina dan menyakitkan hati orang lain. Dan seseorang akan menjadi terpuji karena caranya berpakaian, cara  berpakaian itu juga sangat menentukan terhadap perilaku akhlaq seseorang, baca lagi arti-kel diatas. Kemudian orang akan menjadi terpuji sebab memiliki tepa slira (tingkah laku baik dan sopan). Oleh karena itu seseorang harus ingat, bahwa di dalam kehidupan ini yang akan dilihat oleh Alloh adalah hati dan amalnya atau karyanya, bukan ke gagahan dan kemolekan postur tubuh dan kekayaan materi.
Rasulullah Saw, telah bersabda :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ. رواه مسلم
Artinya :
Dari Abu Hurairah ia berkata : Rasulullah Saw, telah bersabda : “Sungguh Alloh itu tidak akan melihat kepada posturmu (bodymu) dan harta kekayaan-mu, akan tetapi yang akan dilihat (Alloh) adalah hatimu dan amalmu”. HR. Muslim.

          3. Akhlaq manusia terhadap kedua orang tuanya.
              Seseorang wajib berbakti kepada kedua orang tua, dan kewajiban ini tidak terbatas ketika keduanya masih hidup saja, akan tetapi berlaku sekalipun keduanya suadah mati. Tanda-tanda kalau orang itu memiliki akhlaq yang ter-puji apabila orang itu selalu berbakti kepada kedua orang tuanya.


 وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا (24

Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil". QS. 17 : 24 ( Al-Isra’)

عَنْ أَبِي أُسَيْدٍ مَالِكِ بْنِ رَبِيعَةَ السَّاعِدِيِّ قَالَ بَيْنَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ r إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ بَنِي سَلَمَةَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ بَقِيَ مِنْ بِرِّ أَبَوَيَّ شَيْءٌ أَبَرُّهُمَا بِهِ بَعْدَ مَوْتِهِمَا قَالَ نَعَمْ الصَّلاَةُ عَلَيْهِمَا وَاْلاِسْتِغْفَارُ لَهُمَا وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا مِنْ بَعْدِهِمَا وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِي لاَ تُوصَلُ إِلاَّ بِهِمَا وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا. رواه أبو داود

Dari Abi Usaid Malik bin Rabi’ah As-Sa’idiy berkata, diantara kami berada disisi Rasulullah Saw, ketika itu seseorang dari bani Salamah mendatangi Nabi, kemudian ia bertanya : Wahai Rasulullah, apakah saya masih bisa ber-buat suatu kebaikan kepada kedua orang tuaku sesudah keduanya meninggal dunia ?, Jawab Nabi Saw, : Ya, masih ada yaitu : memohonkan rahmat untuk keduanya, memohonkan ampunan keduanya, menunaikan semua janjinya, ber silaturrahmi kepada orang yang tidak dapat dihubungi kecuali dengannya dan menghormat kawan dekatnya”. HR. Abu Dawud.

          4. Akhlaq manusia terhadap orang lain dan lingkungannya.
              Seseorang itu dinilai baik atau buruk budi pekertinya, tingkah laku dan karakternya apabila orang itu di dalam pergaulan kehidupan sehari-hari di lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan kerjanya tidak per-nah menyakiti orang lain baik dalam bentuk ucapan maupun tindakan.
              Ada empat perkara yang dapat merusak keharmonisan pergaulan di dalam masyarakat, yaitu : Bila orang itu diberi kepercayaan malah mengkhia-nati kepercayaan itu, suka berbohong dalam ucapan dan tindakannya, suka meng-ingkari janji dan jahat jika dalam keadaan mengalami perselisihan atau perbedaan.

 وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا (36

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesua- tupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh[[1]], dan teman sejawat, Ibnu sabil[[2]] dan hamba sahayamu. Sesung- guhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri. QS. 4: 36 (An-Nisa’).

Kesimpulan :
          Manusia yang baik akhlaqnya adalah orang yang dapat berbuat baik ter-hadap dirinya sendiri, kedua orang tuanya, tetangga dan lingkungan sekitarnya baik dalam bentuk ucapan maupun tindakan.
          Selamat menjalankan amanat organisasi, hidup dan matinya NU berada pada para generasi.
 

[1] Dekat dan jauh di sini ada yang mengartikan dengan tempat, hubungan kekeluargaan, dan ada pula antara yang Muslim dan yang bukan Muslim.
[2] Ibnus sabil ialah orang yang dalam perjalanan yang bukan ma'shiat yang kehabisan bekal. Termasuk juga anak yang tidak diketahui ibu bapaknya.


EmoticonEmoticon