Wednesday, November 27, 2013

Mengenal kamus

MENGENAL KAMUS
(Definisi dan Fungsi)

      A.    Pengertian Kamus
Kata kamus dalam bahasa Arab biasa disebut dengan al Mu’jam atau al Qamus. Sedangkan pengertian kamus menurut Ahmad Abdul Ghafur Attar adalah:
كِتاَبٌ يَضُمُّ أَكْبَرَ عَدَدٍ مِنْ مُفْرَدَاتِ اللُّغَةِ مُقْرُوْنةَ ًبِشَرْحِهاَ وَتَفْسِيْرِ مَعاَنِيْهَا عَلَى أَنْ تَكُوْنَ اْلَموَادُّ مُرَتَبَةً تَرْتِيْباً خَاصًا,وَ اِمَّا عَلَى حُرُوْفِ اْلِهجَاءِ أَوْ اْلمَوْضُوْعِ.
Artinya: Kamus adalah sebuah buku yang memuat sejumlah besar kosakata bahasa yang disertai penjelasannya dan interpretasi atau penafsiran makna dari kosakata tersebut yang semua isisnya disusun dengan sistematika tertentu, baik  berdasarkan urutan huruf hijaiyah (lafal) atau tema (makna).
Ada beberapa istilah dalam bahasa Arab yang dipakai untuk menyebut kamus, yaitu: mu’jam, qamus, fihris, mausu’ah (ensiklopedi) dan musrid (indeks, Glosarium).[1] Adapun pengertian dari istilah-istilah tersebut antara lain:
        1.      Ensiklopedia adalah suatu daftar subyek atau kumpulan ilmu pengetahuan yang disertai keterangan-               keterangan tentang definisi, latar belakang dan data bibliografisnya disusun secara alfabetis dan                      sistematis.[2]
        2.      Indeks adalah daftar istilah (topik-topik informasi) yang disusun berdasarkan urutan abjad atau dengan system tertentu dan disertai keterangan yang menunjukkan tempat istilah tersebut berada.[3]
Semua istilah tersebut mengarah pada pengertian, yaitu: kumpulan kosakata yang dilengkapi makna atau artinya dan keterangan lain yang bertujuan untuk menjelaskan informasi yang berhubungan dengan kata-kata yang termuat di dalam daftar tersebut.[4]
      B.     AFungsi Kamus
Dilihat dari aspek fungsional kamus adalah sebagai buku yang bertujuan menjelaskan makna kosakata, sedangkan tugas sebuah kamus harus mencakup beberapa hal yang mendasar, yaitu:
a.       Menjelaskan makna kata (syarh al makna)
Dalam menjelaskan makna, sebuah kamus harus memperhatikan beberapa hal:
1)      Makna morfologis (sharaf)
2)      Makna sintaksis (nahwu)
3)      Koneksitas makna (rabth al makna)
4)      Makna ganda
5)      Prioritas makna, yaitu mendahulukan makna kata atas dasar beberapa aspek, seperti: sejarah, keumuman, makna hakiki dan majazi, makna fisik (hissi), makna abstrak (tajridi).
6)      Teknik menjelaskan makna
b.      Menjelaskan artikulasi kata (bayan nutq)
c.       Menjelaskan huruf hijaiyah (bayan hija’)
d.      Mencari akar kata (ta’sil isytiqaqi), misalnya: kata سيئة (dosa, kejelekan) berakar pada kata kerja ساء (buruk, jahat), kata ساعة (jam) berasal dari akar kata ساع (hilang), dan sebagainya.
e.       Memberi informasi morfologis dan sintaksis, karena informasi seputar kaidah-kaidah morfologi dan sintaks diperlukan oleh pengguna kamus, di antaranya:
1)      Penjelasan tentang bentuk-bentuk sharaf (morfologi), seperti: benntuk fiil madhi, fiil mudhari’, isim fail, dzaraf, isim alat dan sebagainya.
2)      Penjelasan tentang fiil tsulasi mujarrad, yaitu kata kerja tritelasi yang asli, yanng belum ada penambahan huruf (mazid) dan contoh-contohnya.
3)      Penjelasan jenis gender dari sebuah kata (mudzakar dan muanas).
4)      Penjelasan tentang jamak taksir.
5)      Penjelasan tentang fiil lazim (kata kerja intransitif yang tidak membutuhkan maf’ul atau obyek) atau tentang fiil mutaaddi (kata kerja transitif yang membutuhkan maf’ul, baik secara langsung maupun dengan bantuan huruf jar).
6)      Penjelasan tentang urgensi ilmu sharaf dan tata mencari maupun memaknai kata.
f.       Memberi informasi penggunaan kata
Salah satu fungsi kamus yang terpenting adalah menjelaskan tentang tingkat penggunaan sebuah kata yang disesuaikan dengan konteks bahasa dan gaya bahasa (stailistika). Untuk menjelaskan hal ini, sebuah kamus dapat memperhatikan hal-hal berikut:
1)      Qidam dan hadats (kosakata lama dan kosakata baru).
2)      Syuyu’iyyah (tingkat keumuman dari sebuah kata).
3)      Tsaqafiyah dan ijtima’iyah (tingkat budaya dan sosial).
4)      Takhasus (tingkat spesialisasi atau kekhususan).
5)      Iqlim al istikhdam (tingkat penggunaan kosakata berdasarkan letak atau daerah).
g.      Memberi informasi lainnya (mausu’ah). Misalnya informasi tentang nama-nama orang atau tokoh, nama tempat, binatang, tumbuhan, peristiwa bersejarah, fenomena alam, rumus-rumus, tabel, lambang, motto, gambar, dan sebagainya.[5]

      C.     Kesimpulan
Seperti halnya kamus-kamus bahasa yang lain, kamus bahasa Arab berguna untuk membantu pelajar, guru maupun kalangan masyarakat yang ingin mengetahui kata-kata yang belum diketahui arti atau maknanya. Kamus bahasa Arab disusun secara alpabetis juga disertai keterangan-keterangan yang berhubungan dengan sebuah kata serta disertai dengan keterangan gambar.

DAFTAR PUSTAKA

Taufiqurrahman, Leksikologi Bahasa Arab, Malang: UIN-Malang Press, 2008.

Tim Perpustakaan STAIN Ponorogo, Manual Penelusuran Informasi Bahan Pustaka,     Ponorogo: UPT Perpustakaan STAIN Ponorogo, 2010.




       [1] Taufiqurrahman, Leksikologi Bahasa Arab (Malang: UIN-Malang Press, 2008), 131-132.
      [2] Tim Perpustakaan STAIN Ponorogo, Manual Penelusuran Informasi Bahan Pustaka (Ponorogo: UPT Perpustakaan STAIN Ponorogo, 2010), 41.
       [3] Tim Perpustakaan STAIN Ponorogo, Manual Penelusuran Informasi Bahan Pustaka, 47.
        [4] Taufiqurrahman, Leksikologi Bahasa Arab, 132.
       [5] Taufiqurrahman, Leksikologi Bahasa Arab, 144-152.


EmoticonEmoticon